| Pulang | 5.05.2012 | leave me ♥? |
Langit sudah berhias semburat jingga tanda matahari telah cukup lelah untuk memancarkan sinarnya seharian. Tidak lama lagi semangat sang matahari akan berganti dengan kelembutan bulan. Menggantikan semrawutnya siang dengan ketenangan dan keintiman yang selalu disajikan sang malam. berarti tinggal sedikit pula waktu yang tersisa buatku untuk menikmati kebebasan bersama sang matahari... karena begitu langit menghitam dan bintang bermunculan, aku harus kembali masuk ke dalam sangkar. Kembali membelenggu diri dalam kesunyian yang tidak pernah terbantahkan.
Begitu berat rasanya melangkahkan kaki untuk kembali pulang. pulang ke rumah yang tidak pernah terasa rumah. Tempat itu kosong, sepi, dan tanpa nyawa. Tidak ada kenangan yang bisa dibanggakan dari tempat itu. hanya memori pilu yang perlahan mematikanku dari dalam. Tidak pantas rasanya aku menyebutnya rumah... hanya tempat singgah.
Andai memori itu tak begitu kuat merengkuh pundakku, aku lebih baik pergi. Sial bagiku...
memori itu bukan saja merengkuhku. Ia mencengkeram, bahkan tak sungkan untuk menyakitiku. Membuka luka lama yang pernah tercipta di ‘rumah’ itu. hingga membuatku lagi-lagi harus berjibaku untuk menyelamatkan diri. Untuk tetap bertahan hidup... untuk tidak mengalah pada masa lalu.
“pulanglah kemari saat kamu lelah... pulanglah kesini saat kau rindukan kami. Kami menantimu diambang pintu untuk mendekapmu dalam peluk...” betapa kata-kata yang mereka ucapkan terus bergema dalam hati dan pikiranku. Membuatku terus berharap bahwa mereka memang menungguku diambang pintu ‘rumah’ itu. nyatanya? Tak ada siapapun diambang pintu. Kosong. Hampa... tidak ada seorang-pun yang berdiri di sana. Tidak salah satu dari mereka.
Aku buka perlahan pintu tua didepanku. Sedikit muncul harapan bahwa setelah aku membuka pintu akan ada orang-orang yang berlari menyongsongku. Menenggelamkanku dalam rengkuhnya. Membawa kembali kehangatan masa lalu. Nyatanya? Hanya kesunyian dan bau usang yang perlahan menyeruak ke dalam hidungku. Masih tidak ada siapapun.
Aku memandang refleksi diriku yang terpantul di cermin besar yang menempel di dinding ruang tamu. Bukan diriku yang dulu pernah aku saksikan refleksinya. Bukan lagi gadis yang penuh senyum dan tawa. Refleksi gadis yang aku lihat saat ini adalah gadis yang matanya redup tanpa binar, suram, begitu rapuh, seolah boneka tua tanpa nyawa. Yah... mungkin terlalu lama tinggal di tempat ini membuatku begitu menyatu dengannya. Sama kosongnya...
Berat rasanya aku harus mengalami semua ini sendirian. Kadang, aku ingin ada seseorang yang menangkapku saat aku jatuh, ada yang memapahku saat aku mulai limbung, ada yang menopangku saat aku lemah. Aku lelah untuk terus berjuang seorang diri. Aku butuh orang lain untuk berjuang bersamaku. Untuk berjalan disampingku...
Kadang aku bertanya-tanya dalam hati... kemana perginya mereka yang dulu berjanji untuk selalu disampingku? Kemana hilangnya janji yang dulu terucap? Janji untuk terus bersama dalam keadaan apapun. Kemana mereka sekarang? Kenapa seolah hanya aku yang terbelenggu masa lalu sementara mereka sudah memulai hidup baru dengan sosok-sosok baru? Siapa yang salah sebenarnya? Aku atau mereka?
Ku telusuri lagi setiap ruang di rumah ini. Sudah lama rasanya aku tak mengamatinya selekat ini. betapa aku rindukan setiap inci dari ruang ini. ruang-ruang yang dulu begitu hidup, kini redup. Begitu matinya rumah ini sekarang. Dinding-dinding rumah ini menjadi saksi bisu bagaimana kekeluargaan, persahabatan, tawa, tangis, pertengkaran, dan pada akhirnya perpisahan terjadi...
Kini, entah dimana mereka semua berada. Mungkin sudah ada ‘rumah’ lain yang menampung mereka... yang bisa menyuguhkan kehangatan dan sajian yang lebih istimewa daripada rumah ini. apakah semudah itu mereka menemukan penggantinya? Apa mereka merindukan rumah ini dan memori-memori yang mereka tinggalkan disini?
Mungkin aku yang tidak bisa beranjak dari masa lalu. Tetap setia berangkulan dengan memori-memori manis dari lampau. Tetap bertahan dengan angan bahwa mereka akan kembali dan mengulang kisah yang sama. Harapan untuk kembali bersama...
* * * * *
Aku
memandang lagi rumah penuh cerita itu. mungkin untuk terakhir kalinya. Kertas
bertuliskan ‘DIJUAL’ tertempel melekat di pintu masuk rumah itu. ya... aku
menjual rumah itu. aku siap untuk melego setiap sudut rumah itu dan memori
usang yang telah mendarah daging didalamnya dengan lembaran baru kehidupan di
rumah baru yang akan segera aku tempati.
“mbak,
barangnya sudah bisa mulai dipindah sekarang?” tanya petugas yang akan membantu
untuk membawa barang-barang ke rumah baru yang akan kutinggali. Rasa sesak
menjalar perlahan dalam hatiku. pindah... apa aku siap meninggalkan semua ini?
“oh,
iya pak... dipindah sekarang nggak papa.” Aku melemparkan senyum canggung ke
petugas itu. ia membungkuk memohon diri, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Tidak sampai satu jam, barang-barang itu sudah dalam perjalanan untuk ke hunian
baru mereka.
Berat
rasanya meninggalkan rumah ini. yah, semacam tidak konsisten. Aku selalu
mengeluh saat harus pulang, dan sekarang rasanya hatiku menjerit tidak ingin
meninggalkannya. Payah!
Aku
benar-benar tidak bisa menikmati perjalanan ke hunian baruku. Rasa tidak ikhlas
masih menggelayut di hati. Ternyata... walaupun rumah tua itu begitu sepi dan
tidak bernyawa, aku toh tetap
merindukannya. Memori-memori yang tersimpan, bau usang yang menyeruak setiap
aku membuka pintu, kesunyian, dan kesendirian yang selalu ada di sana.
Laju
mobil mulai melambat, dan rumah yang akan segera aku tinggali telah nampak di
seberang jalan. Rumah berarsitektur Belanda dengan dua lantai. Tampak begitu
cantik, seperti rumah-rumah bangunan Belanda kebanyakan. Namun, kesan tua dan
klasik tetap saja terpampang begitu jelas dalam sekali pandangan mata. Rumah
ini juga mungkin menyimpan banyak cerita.
kriiiiettttt...
Derit
keras menyeramkan menggema saat aku mendorong perlahan pintu masuk rumah itu. Tidak
ada lagi bau usang yang menyambut penciumanku. Hanya satu yang langsung aku
rasakan. Rumah ini tidak begitu menerima kehadiranku. Seusang-usangnya rumahku
yang dulu, tapi ia selalu menyambutku dengan keramahan. Menimbulkan rasa nyaman
untuk berlama-lama di sana walau tersiksa. Rumah ini? ada energi besar yang
menolak kedatanganku disini. Seolah ia mengisyaratkan bahwa rumah ini bukan
diciptakan untuk orang-orang berpikiran terbuka sepertiku.
Aku
menelusuri setiap ruang di hunian baru ini. mencoba untuk menemukan sesuatu
yang patut dicintai sehingga aku akan bertahan lama hidup disini. Tapi apa?
Tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku disini. Semua tampak biasa saja.
Ruang
demi ruang telah aku lewati, amati lekat-lekat, dan berusaha untuk mencintai
setiap sudutnya. Namun perasaan tertolak itu semakin menggebu. Seolah rumah ini
menjerit untuk memintaku segera pergi. Sayangnya, aku tidak mungkin pergi.
Rumah lamaku sudah menutup pintu untukku kembali. Satu-satunya pilihan adalah
bertahan disini. Melawan segala tekanan yang dimunculkan oleh dinding-dinding
rumah ini.
Ah,
andai mereka masih ada disini. Mungkin aku masih sekuat baja dan setegar
karang. Bagaimanapun, mereka adalah sumber kekuatan dan kasih sayang yang
selalu aku butuhkan. Mereka terlanjur menjadi bagian dari nyawaku. Aku setengah
hidup jika mereka tak ada disisiku. Namun apa daya... waktu sudah berputar
begitu jauh, dan mereka sudah berlabuh ke rumah baru masing-masing. Memulai hidup
baru dengan keluarga yang baru. Mungkin tidak akan sama seperti yang lama, tapi
setidaknya sebuah keluarga... dan kini adalah giliranku untuk memulai hidup
baru di ‘rumah’ baru.
Labels: word by word